Selasa, 28 Februari 2017

Ketika kematian menjemput saudara kita

Ditanyakan kepada seseorang: Bagaimana perumpamaan saudara yang shalih?
Maka dia menjawab: “Sesungguhnya seseorang jika telah meninggal dunia maka keluarganya akan sibuk membagikan warisannya. Adapun saudara yang shalih, ia kan menyendiri dalam kesedihan, memperhatikan apa-apa yang telah diberikan saudaranya kepadanya (berupa kebaikan -pent) dan ia pun mendoakannya.”

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA
READ MORE - Ketika kematian menjemput saudara kita

Jumat, 24 Februari 2017

Waspada liberalisasi dalam agama Islam

بِسْمِ اَللّهِ الرّحْمن الرّحيم
Kopas

*Waspadai 5 Langkah Liberalisasi Agama Islam*

Kaum Sepilis (sekuler, pluralis, dan liberalis) telah gencar menyebarkan propaganda yang nampak Islami. Berikut aneka PROPAGANDA LIBERAL dan jawaban kontra-logika sesat terkait.

1. PROPAGANDA SHALAT

“Buat apa SHALAT kalau riya’ tidak ikhlas, karena tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lebih baik bersihkan hati dulu, nanti kalau sudah ikhlas tidak riya’, maka baru Shalat agar diterima oleh Allah SWT.”

TARGET :
Kalimat ini bertujuan untuk pembenaran meninggalkan Shalat dengan “dalih” pembersihan hati dulu.

JAWAB :
Wajib Shalat walau masih riya’ belum ikhlas, karena Shalat adalah KEWAJIBAN AGAMA. Setiap muslim, ikhlas atau pun riya’, rela atau pun terpaksa, tetap WAJIB mendirikan Shalat.

Dan Shalat adalah BENTENG dari segala perbuatan KEJI dan MUNKAR, termasuk riya’, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. 29 Al-‘Ankabuut ayat 45.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Justru : Shalat adalah OBAT HATI yang bisa menyembuhkan dan menghilangkan penyakit hati seperti riya’ dan ‘ujub. Bagaimana penyakit hati bisa sembuh tanpa mendirikan Shalat?!

2. PROPAGANDA JILBAB

“Lebih baik tidak pakai JILBAB, tapi hatinya baik, daripada pakai Jilbab tapi hatinya busuk.”

TARGET :
Kalimat ini bertujuan untuk membenarkan pelepasan Jilbab dengan “dalih” yang penting hatinya baik.

JAWAB :
Jilbab adalah KEWAJIBAN AGAMA, baik si pemakai berhati baik mau pun buruk, maka Jilbab tetap WAJIB dikenakan oleh para Wanita Muslimah sesuai dengan ketentuan Syariat, sebagaimana firman Allah Swt dalam
(QS.33.Al-Ahzaab ayat 59)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Justru : Jilbab juga termasuk OBAT HATI yang akan ikut merangsang penyembuhan penyakit hati, sekaligus identitas muslimah yang jadi benteng dari segala gangguan.

Karenanya, lebih baik memakai jilbab dan berhati baik, daripada berhati baik tanpa jilbab, apalagi berhati busuk tanpa jilbab.

3. PROPAGANDA KEPEMIMPINAN

“Lebih baik PEMIMPIN KAFIR asal jujur, adil, baik, cerdas dan pekerja keras, daripada PEMIMPIN MUSLIM yang khianat, jahat, bejat, bodoh dan pemalas.”

TARGET :
Kalimat ini bertujuan untuk membolehkan orang Kafir memimpin umat Islam di wilayah mayoritas muslim.

JAWAB :
Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Al-Ijma’ bahwasanya Orang Kafir HARAM memimpin umat Islam di negeri Islam atau di wilayah mayoritas muslim.

Kepemimpinan dalam pandangan Al-Qur’an bukan sekadar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam
(Q. S. Al-Baqarah 2: 124)

وَ إِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِيْن

“Dan (ingatlah) tatkala telah di­uji Ibrahim oleh TuhanNya dengan beberapa kalimat, maka telah dipenuhinya semuanya. Diapun berfirman : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan engkau Imam bagi manusia. Dia berkata : Dan juga dari antara anak-cucuku. Berfirman Dia : Tidaklah akan mencapai perjanjianKu itu kepada orang-orang yang zalim.”

Karenanya, lebih baik Pemimpin Muslim yang jujur, adil, baik, cerdas dan pekerja keras, daripada Pemimpin Kafir yang jujur, adil, baik, cerdas dan pekerja keras, apalagi Pemimpin Kafir yang khianat, jahat, bejat, bodoh dan pemalas.

4. PROPAGANDA POLITIK

“Islam itu suci dan Ulama itu mulia, sedang POLITIK kotor. Karenanya, jangan bawa Islam dan Ulama ke dalam politik.”

TARGET :
Kalimat ini bertujuan untuk menjauhkan Islam dan Ulama dari politik agar para Politisi Durjana bebas dan leluasa mengatur Negara dan Bangsa sesuai “Syahwat Syaithooniyyah”-nya.

JAWAB :
Islam itu suci dan Ulama itu mulia, sedang politik (سياسي) itu PENTING untuk mengurus negara dan bangsa. Karenanya, hanya Islam yang suci dan Ulama mulia yang boleh masuk ke dalam politik agar tidak dikotori oleh para Politisi Durjana.

Karenanya, Islam menjadikan Kekhilafahan menjadi salah satu Bab penting dalam Fiqih Islam. Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersama Khulafa RasyidinrhadhiAllaahu ‘anhum, telah mempraktekkan POLITIK ISLAM yang benar lagi bersih untuk menjadi suri tauladan bagi segenap umat Islam.

5. PROPAGANDA TATHBIQ SYARIAH

“SYARIAT ISLAM adalah aturan hukum yang bagus, saat diterapkan di zaman Generasi Terbaik “Shahabat”, maka hasilnya bagus. Sedang zaman sekarang generasi umat Islam sangat lemah dan tidak bagus, sehingga tak mampu jalankan Syariah yang begitu paripurna. Karenanya, umat Islam saat ini jangan sibuk dengan perjuangan TATHBIQ SYARIAH (peneratapan syariah) dulu, tapi harus fokus kepada perbaikan diri sendiri dulu.”

TARGET :
Kalimat ini bertujuan agar umat Islam tidak lagi menperjuangkan Tathbiq Syariah dengan “dalih” memperbaiki diri dulu.

JAWAB :
Syariat Islam adalah aturan hukum yang bagus, dan selalu oleh para Shahabat, sehingga menjadi Generasi Terbaik.

Nah, generasi zaman sekarang yang lemah dan kurang bagus, justru karena tidak jalankan Syariat Islam dengan baik.

Karenanya, generasi sekarang wajib mencontoh para Shahabat dalam menjalankan Syariah yang begitu paripurna, sehingga bisa menjadi generasi yang bagus juga.

INGAT : Dahulu para Shahabat sebelum masuk Islam merupakan Generasi Jahiliyah yang buruk, lalu masuk Islam dan menjalankan Syariah Islam, sehingga menjadi Generasi Terbaik sebagaimana dipuji oleh Allah Swt dalam
( Q.S. Aali ‘Imraan 3 ayat 110)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Kesimpulannya, siapa yang ingin menjadi Generasi Terbaik, maka wajib perjuangkan Tathbiq Syariah, karena Syariah lah yang mampu mengubah pribadi dan masyarakat menjadi Generasi Terbaik.

Hasbunallaahu Wa Ni’mal Wakiil, Ni’mal Maulaa wa ni'man nashir.
READ MORE - Waspada liberalisasi dalam agama Islam

Kamis, 16 Februari 2017

Kebodohan,Taqlid dan Takwil bukan Udzur dalam pengguguran Tauhid dan Risalah

Imam Al Qarafi berkata:

و لهذ لم يعذرهم الله بالجهل في أصول الدين إجماعا.

" Dan oleh sebab ini Allah tidak mengudzur mereka dengan sebab kebodohan dalam Usuluddien secara ijma"
( syarah tanqih al ushul : 439 ).

"Para 'ulama juga berkata seraya membedakan antara kebodohan dalam tauhid dengan syariat.

Alqodhi iyadh:

و كذالك نكفر بكل فعل إجمع المسلمون على انه لا يصدر إلا من كافر و إن كان مصرحا بالإسلام مع  فعله ذاك الفعل كالسجود للصم و الشمس و القمر و الصليب و النار و السعي الى الكنائس و البيع مع أهلها و التزيي بزيهم من شد الزنانير و فحص الرؤوس، فقد أجمع المسلمون على أن هذا لا يوجد إلا من كا فر و أن هذه الأفعال علامة على الكفر و إن صرح فاعلها بالإسلام.
وكذالك أجموا على تكفر كل من إستحل القتل أو شرب الخمر أو الزنا فما حرمه الله بعد علمه بتحريمها كأصحاب الإباحية من القرامطة وبعض غلاة المتصوفة.

"Dan begitu kami mengkafirkan dengan sebab perbuatan yg mana kaum muslimin telah berijma bahwa hal itu tidak muncul kecuali dari orang kafir walaupun dia itu mengaku muslim disaat melakukan perbuatan itu , seperti sujud kepada patung, matahari, bulan, salib dan api dan (seperti) berjalan menuju gereja dan biara bersama para pemeluknya, dan mengenakan kostum mereka seperti mengikat pinggang dan mecepak rambut kepala
( ala mereka ) dimana kaum muslimin telah ijma bahwa hal ini tidak ada kecuali dari orang kafir dan bahwa perbuatan-perbuatan ini adalah tanda terhadap kekafiran walaupun pelakunya mengaku muslim.
Dan begitu juga mereka ijma terhadap pengkafiran setiap orang yg menghalalkan pembunuhan, minum khamr atau zina dari hal-hal yg Allah haramkan SETELAH dia mengetahui pengharamannya, seperti penganut paham Ibahiyyah ( serba boleh ) dari kalangan Qoramithah dan sebagian shufiyyah yg ghuluw.                                                 ( syarah asy syifa bi huquq al mushtafa :5/431.)

Al Imam Muhammad Ibnu Nashr Al Marwaziy berkata seraya menghikayatkan ijma Ahlussunnah dalam membedakan antara tauhid dan syariat.:

قالو-أي أهل السنة - ولما كان العلم با لله إيمانا و الجهل به كفرا و كان العلم بالفرائض إيمانا و الجهل بها قبل نزولها ليس بكفر لأن أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم قدأقروا با لله أول ما بعث الله رسوله اليهم ولم يعلموا الفرائض التي افترضت عليهم بعد ذلك، فلم يكن جهلهم بذلك كفرا. ثم أنزل الله عليهم الفرئض فكان إقرارهم بها و القيام بها إيمانا، و إنمايكفر من جحدها لتكذيبه خبرالله، ولو لم يأت خبر من الله ما كان بجهلها كافرا، وبعد مجئ الخبر من لم يسمع بالخبر من المسلمين لم يكن بجهلها كافرا والجهل با الله كفر في كل حال قبل الخبر و بعد الخبر.

"Mereka- yaitu ahluasunnah- berkata: Dan tatkala mengetaui Allah adalah keimanan dan kebodohan kepadanya adalah kekafiran, dan mengetahui faraidl
(kewajiban-kewajiban syariat) itu adalah keimanan dan kebodohan terhadapnya SEBELUM ia diturunkan adalah bukan kekafiran, karena sesungguhnya para shahabat rasulullah shallallah 'alaihi wa sallam telah mengakui Allah, diawal Allah mengutus Rasulnya kepada mereka sedangkan mereka itu belum mengetahui faraidl yg diwajibkan kepada mereka setelah itu sehingga kebodohan mereka terhadap faraidl itu bukanlah kekafiran. Kemudian Allah menurunkan faraidl kepada mereka maka pengakuan mereka terhadapnya adalah merupakan keimanan, dan sebab orang yg mengingkarinya itu dikafirkan hanyalah karena iya mendustakan khabar dari Allah , dan seandainya tidak datang khabar dari Allah tentu dia tidak menjadi kafir dengan sebab ketidaktahuan, dan setelah datangnya khabar dari Allah, orang muslim yg blm mendengar khabar itu maka dia tidak menjadi kafir dengan sebab ketidaktahuan tehadapnya. Sedangkan kejahilan kepada allah adalah kekafiran dalam semua kondisi, baik sebelum ada khabar mau pun setelah adak habar."

( Majmu' al fatawa,"7/25).

Catatan :

Kejahilan kepada Allah di atas adalah sikap tidak mentauhidkannya, dan maksud dari  "mengakui allah" adalah mentauhidkannya atau menyambut seruan tauhid.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata:

و منهم من ثبت على الشهادتين ولكنه أقر بنبوة مسيلمة ظنا منه أنه أشركه في النبوة لأنه أقام شهود زور ثهدوا له ب
ذلك فصدقه كثير من الناس. وم

ع ذلك أجمع العلماء على انهم مرتدون ولو جهلوا ذلك و من شك في ردتهم فهو كافر.

"Dan diantara mereka itu ada orang yg tetap diatas dua kalimat syahadat , akan tetapi dia mengakui kenabian musailamah dengan anggapan darinya bahwa Rasulullah menyertakan dia ( musailamah) dalam kenabian, dikarenakan dia itu mendatangkan para saksi palsu yg bersaksi prihal kenabiannya sehingga dia dipercayai oleh banyak manusia. Namun demikian para ulama berijma bahwa mereka itu murtad walaupun jahil terhadap hal itu, dan siapa yg meragukan kemurtadan mereka maka dia kafir."( syarah sittati mawadli minas-sirah, majmu'ah tauhid ).




Syaikh abdullah Aba Bithin berkata:

فالمدعي أن مرتكب الكفر متأولا أو مجتهدا أو مخطئا أو مقلدا أو جاهلا معذور مخالف للكتاب والسنة و الإجماع بلاشك .

" Sehingga orang yg mengklaim bahwa pelaku kekafiran karena takwil , ijtihad, keliru, taqlid, atau kebodohan itu diudzur adalah menyelisihi Al kitab, As Sunnah dan ijma tanpa diragukan lagi, " ( Al intishar Li Hijbillah Al Muwahhidin dalam Aqidatul Muwahhidin " 18).

Beliu Juga Berkata:

ونحن نعلم أن من فعل ذلك- أي الشرك- ممن ينتسب إلى الإسلام أنه لم يوفعهم في ذلك ألا الجهل، فلو علموا أن ذلك يبعد عن الله غاية الإبعاد و أنه من الشرك الذى حرم الله لم يقدموا عليه، فكفرهم جميع العلماء و لم يعذروا بالجهل كما يقول بعض الضالين: إن هؤلاء معذورون لأنهم جهال.

" Dan kami mengetahui bahwa orang yg melakukan hal itu - yaitu syirik- dari kalangan orang yg mengaku muslim adalah tidak menjerumuskan mereka kedalam syirik itu kecuali kebodohan. Dan seandainya mereka mengetahui bahwa hal itu menjauhkan mereka dari Allah dengan sejauh-jauhnya dan bahwa ia itu termasuk syirik yg diharamkan Allah, tentu mereka tidak melakukannya, namun demikian semua ulama mengkafirkan mereka dan mereka tidak di udzhur dengan sebab kebodohan, sebagaimana yg dikatakan oleh sebagian orang-orang SESET: sesungguhnya mereka itu diudzur karena mereka itu orang-orang bodoh,"
(Ad Durar As Saniyyah: 10/401).

Dan berkata juga:

أجمع العلماء على أنه لايجوز التقليد في التوحيد والرسالة.

" Ulama telah berijma bahwa tidak boleh taqlid didalam tauhid dan risalah" ( Majmu'ah Ar Rasail Wal Masail An Najdiyah : ).

( Abu Sulaiman Al Arkhabiliy )

Dari makalah: * NUKILAN IJMA DALAM MATERI TAUHID ***

Tambahan:

AlImam Asy Syafi’iyrahimahullah berkata: (Seandainya orang jahil itu diudzur karena sebab kejahilannya tentulah kejahilan itu adalah lebih baik daripada ilmu (mengetahui), karena kejahilan itu bisa menggugurkan beban-beban taklif dari si hamba dan bisa menenangkan hatinya dari berbagai kecaman. Sungguh tidak ada hujjah bagi si hamba dalam kejahilannya terhadap hukum setelah penyampain hujjah (oleh rasul) dan adanya kesempatan, supaya tidak ada hujjah bagi manusia terhadap Allah setelah diutusnya rasul-rasul). (Al Mantsur Fil Qawaid, Az Zarkasyi)

READ MORE - Kebodohan,Taqlid dan Takwil bukan Udzur dalam pengguguran Tauhid dan Risalah

Rabu, 15 Februari 2017

Abdurrahman bin Auf, saudagar berjuluk si tangan emas

Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu, dikenal sebagai shahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang hartawan dan dermawan.

Benar, ia seorang saudagar besar penuh teladan. Berasal dari Bani Zuhrah, Abdurrahman dilahirkan 10 tahun setelah Tahun Gajah. Dalam generasi shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kita mengenal istilah Assabiqunal awwalun, yakni kelompok shahabat yang masuk Islam di urutan awal. Dan Abdurrahman termasuk seorang di antaranya. Ia mengikrarkan diri sebagai Muslim tepat dua hari setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, sebelum Baitul Arqam menjadi pusat tarbiyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sebelum masuk Islam, Abdurrahman bin Auf dikenal dengan nama Abdu Amr Nama  Abdurrahman bin Auf baru diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam setelah dirinya masuk Islam.



Selain termasuk Assabiqunal awwalun, Abdurrahman bin Auf  termasuk pula dalam barisan sepuluh shahabat pilihan yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan masuk surga. Ia juga termasuk satu dari enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Khaththab. Dan di masa Rasulullah masih hidup, ia dimuliakan dengan diserahi amanah sebagai mufti di Madinah.

Seperti halnya shahabat yang lain, Abdurrahman bin Auf tidak luput dari tekanan bahkan penganiayaan oleh kaum musyrikin Quraisy. Ia termasuk salah satu shahabat yang berhijrah ke Habasyah. Lalu setelah Rasulullah dan para shahabat diperintah oleh Allah Ta’ala agar berhijrah ke Yatsrib (kemudian dinamai Madinah), Abdurrahman menjadi pelopornya. Demi menyelamatkan iman, ia rela meninggalkan harta benda miliknya.

Setibanya kaum Muslimin Makkah di Yatsrib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mempersaudarakan mereka (yang disebut Muhajirin) dengan Anshar (penduduk asli Yatsrib). Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi al-Anshari. Seperti halnya Abdurrahman, Sa’ad adalah seorang saudagar kaya. Dirinya bertulus hati ingin memberi bantuan materi saudara barunya yang datang dari jauh. Tapi Abdurrahman menolak. Ia hanya memohon agar ditunjukkan letak pasar di kota itu. Dengan senang hati Sa’ad menunjukkannya.

Setelah mengetahui lokasi pasar, Abdurrahman bin Auf segera memulai pekerjaan yang memang menjadi keahliannya, berdagang. Berkat ketekunan dan kedekatannya dengan Allah Ta’ala, usahanya tumbuh pesat. Belum berapa lama nenjalankan bisnis di daerah yang baru, ia telah berhasil mengumpulkan harta yang lumayan banyak. Suatu hari pria ini datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata, “Saya ingin menikah, ya Rasulullah.”

“Apa mahar yang akan kau berikan pada calon istrimu?” tanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

“Emas seberat biji kurma,” jawabnya.

Nabi saw bersabda, “Laksanakanlah walimah walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah Ta’ala memberkahi pernikahan dan hartamu.”

Emas seberat biji kurma sungguh bukan barang yang murah dan dimiliki siapa saja. Namun Abdurrahman telah memilikinya.

Setelah menikah, kehidupan Abdurrahman bin Auf bertambah sejahtera. Usahanya terus berkembang dan jadilah ia seorang saudagar kaya raya. Ibarat menemukan sebongkah batu, di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang Allah karuniakan kepadanya, sehingga dirinya mendapat julukan ‘Shahabat Bertangan Emas’.

Meski bergelimang harta, namun Abdurrahman bin Auf tidak lantas cinta kepada dunia. Imannya mengatakan bahwa harta benda dunia hanya fatamorgana. Ia adalah cobaan bagi manusia. Maka, pada saat Perang Badar, dirinya turut terjun ke medan jihad fi sabilillah. Tak hanya hartanya yang diinfakkan, tangannya pun turut memegang senjata dan berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, di medan laga. Umar bin Utsman bin Ka’ab at-Taimy salah satunya.

Tak hanya sekali saja. Di Perang Uhud, Abdurrahman ‘Si Tangan Emas’ tetap tak mau ketinggalan mengangkat senjata. Bahkan di saat banyak shahabat yang pergi meninggalkan medan tempur, dirinya tetap bertahan di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Sebagai seorang hartawan, Abdurrahman bin Auf merupakan shahabat andalan dalam menginfakkan harta. Untuk membiayai Perang Tabuk, ia menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Bahkan dirinya sampai tak menyisakan uang belanja untuk keluarganya. Mengetahui hal itu, Umar bin Khaththab melapor kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan berbisik, “Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.”

Rasulullah lantas menanyai Abdurrahman, “Apakah engkau meninggalkan uang belanja untuk istrimu?”

“Ya,” jawabnya, “aku tinggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan.”

“Berapa?” tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

“Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang Allah janjikan,” jawabnya mantab.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat, Abdurrahman bin Auf tetap istiqamah menjadi penyokong dana perjuangan Islam. Bahkan ia memeroleh kemuliaan mengemban amanah menjaga kesejahteraan Ummahatul Mukminin (istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam). Tugasnya ialah memenuhi segala kebutuhan materi dan mengadakan pengawalan setiap mereka pergi.

Demikian besar andil Abdurrahman bin Auf dalam perjuangan penegakan Islam di bumi, khususnya dengan harta bendanya. Hal ini patut menjadi pelajaran untuk Muslimin saat ini. Jangan sampai harta benda menjadi alat setan untuk menipu kita. Karena sejatinya gemerlap dunia hanya kepalsuan belaka.

Seperti dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu di saat Abdurrahman wafat, “Engkau telah mendapatkan kasih sayang Allah dan berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah selalu merahmatimu.” Abdurrahman bin Auf, Si Tangan Emas, wafat pada 652 M dalam usia 72 tahun. Wallahu a’lam.
READ MORE - Abdurrahman bin Auf, saudagar berjuluk si tangan emas

Selasa, 14 Februari 2017

Sejarah masuknya Islam di bumi Nusantara, sejarah vs fakta

Bapak/Ibu, Abang/Kakak, Kanda/Yunda
Yang berada di Spanyol dan Inggris. Mohon bantuan untuk melihat dokumen pada perpustakaan yang ada di artikel di bawah ini.

TERNYATA ISLAM MASUK INDONESIA BUKAN DARI PEDAGANG GUJARAT (VERSI BELANDA).
YANG BENAR ISLAM DI PERKENALKAN OLEH ROSULULLOH TH 625 M MELALUI UTUSAN ALI BIN ABI THALIB DLL

*Maa Syaa Alloooh... Fakta Sejarah Mencengangkan. Rekam Jejak Dakwah Para Shahabat Nabi di Indonesia*
(Ini rangkuman taushiyah Ustd. Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia. Berikut ini cuplikannya:

====================

*FAKTA SEJARAH ISLAM DI INDONESIA YG DIBELOKKAN OLEH BELANDA !!*

🕋🕌🕋🕌🕋🕌🕋🕌

*SEJARAH ISLAM PERTAMA KALI MASUK  KE INDONESIA, YG BELUM DIKETAHUI OLEH UMAT ISLAM*

Mau tanya, adakah diantara kita yg pernah membaca buku sejarah bahwa Sahabat Nabi Ali bin Abi Talib pernah ke Jepara Indonesia?

====================
💎 *Islam masuk ke indonesia pada  kekhalifahan Generasi Terbaik  (Khulafaur Rasyidin)* 💎

➡ *Islam pertama kali masuk ke indonesia BUKAN melalui jalur perdagangan dan bukan dalam hal perekonomian*.

➡ *Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan tentang wilayah dakwah Nabi Muhammad ﷺ :*

 وَماَ أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ -

🌿 *"Dan Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam". (Qs. AL-Anbiya:107)*

👉 *Ali bin Abi Thalib, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (Tanah Sunda), Indonesia, tahun 625 M. [1]*

👉 *Ja'far bin Abi Thalib, berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia,sekitar tahun 626 M. [2]*

👉 *Ubay bin Ka'ab, berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah. Sekitar tahun 626 M. [3]*

👉 *Abdullah bin Mas'ud, berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah sekitar tahun 626 M. [4]*

👉 *'Abdurrahman bin Mu'adz bin Jabal, dan putera-puteranya Mahmud dan Isma'il, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sekitar tahun 625 M. [5]*

👉 *Akasyah bin Muhsin Al-Usdi, berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah Wafat, ia kembali ke Madinah sekitar tahun 623 M. [6]*

👉 *Salman Al-Farisi, berdakwah Ke Perlak, Aceh Timur dan Kembali Ke Madinah sekitar tahun 626 M. [7]*

*"keterangan: ( [1] s/d[7] bisa dilihat dibawah, di footnote)"*

♨ Seperti yg kita ketahui sebelumnya *_di pelajari di sekolah bahwa islam datang melalui pedagang gujarat india_*. *Padahal bukan seperti Itu, ini adalah TEORI PARA KAFIR,*

Ini cara para orientalis, yang *disebarkan oleh orientalis terkemuka Belanda, yg pertama kali bernama  "J. Pijnapel" lalu "Snouck Hurgronje" yg notebene "ingin menghancurkan Islam" untuk menutupi sejarah bahwa Indonesia adalah bagian pada kekhilafahan Utsman bin affan*.
*_Oleh karena itu Indonesia patut diperhitungkan_*.

📝*_Demi mencapai tujuannya itu, ia mempelajari bahasa Arab, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya_

🔎 *Sebuah artefak ditemukan* bahwa saat itu di indonesia tepatnya dipulau jawa yaitu *KALINGGA, Jepara.*

*Pada tahun 640-650 M ada sebuah kerajaan yg ratunya adil bernama RATU SIMA dan anaknya bernama RATU JAYISIMA.*

🌟Ketika itu ada seorang dari tanah arab yg diutus *pada masa Utsman bin Affan dari BANI UMAYYAH. Bani Umayyah adalah kekhalifahan Islam pertama (Muawiyah bin Abu Sofyan) setelah masa Khulafar Rasyidin.*

*Lalu singgah di Kalingga-Jepara, kemudian Ratu Sima dan Putrinya masuk islam dan memerintah dari tahun 646-650 M, dan islam belum berkembang saat itu, lalu ditandai adanya surat-menyurat atau korespondesi antara Ratu Sima pada masa Bani Umayyah untuk di datangkan guru-guru untuk berdakwah.*

 *Surat-surat mereka sekarang tersimpan di MUSEUM GRANADA, SPANYOL.* Indonesia adalah salah satu *sasaran atau tujuan sahabat-sahabat nabi untuk berdakwah.*

↪ Setelah masa kekhalifahan Utsman Bin Affan, lalu Ali bin Abu Thalib & kemudian *di gantikan oleh tabi'in UMAR BIN ABDUL AZIZ yg memerintah pada tahun 711 M*.

➿ Pada 7 tahun kemudian *tepatnya 718 M, Khalifah UMAR BIN ABDUL AZIZ & anaknya ABDUL MALIK telah menginjakan kaki di Palembang - Sumatra Selatan*.

➿ Pada waktu itu *Palembang dipimpin oleh seorang Raja Sriwijaya yg bernama RAJA SRINDRA VARMA.*

*Ternyata dakwah Umar bin Abdul Aziz membuat Raja tertarik lalu masuk islam.*

📌Terbukti *di makamnya tertuliskan kalimat Lailla hailallah Muhammad Rasulullah*.

 Lalu di tandai juga ada *surat-menyurat (korespondensi) antara Raja Srindra Varma dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz* yg juga untuk meminta didatangkannya para guru untuk berdakwah. *Yg kini surat-suratnya di simpan di Museum Oxford, inggris.*

✊ *Setelah Rasulullah ﷺ wafat, sahabat-sahabat nabi menyebar keseluruh penjuru dunia untuk berdakwah profesi mereka yg utama pada waktu itu.*

↪ *Benarlah akan nubuwah Rasulullah ﷺ  bersabda:*

*"Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah.*

*Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku*.

*"Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”*
📃 *_(HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549)_*

☝ *Sejak 633 M* *Rasulullah ﷺ wafat⤵*
*_(maka khulafaur Rasyidin yg memimpin)_*
*~Thn 634 M kekhalifahan Abu Bakar  = 2 thn*
*~Thn 644 M kekhalifahan Umar Bin Khattab = 10 thn*
*~Thn 657 M kekhalifahan Utsman Bin Affan = 13 thn*
*~Thn 661 M kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib = 5 thn.*
*_Jadi totalnya adalah selama 30 thn._*

➡ *Inilah 30 tahun masa khilafah ala manhaj nubuwwah, seperti disebutkan oleh Nabi shallalahu alaihi wa sallam*.

🌟 *Bahwa kehebatan & keistimewaan Nabi Muhammad ﷺ dalam memimpin strategi dakwah islam ke seluruh dunia*.

*Dengan mendalami atau memahami sejarah maka Aqidah kita akan lurus yg harus dibarengi dengan akhlakul karimah.*

*_Semoga Bermanfaat...Wa billahi taufiq walhidayah.._*

▫▫▫▫▫▫▫▫▫
*Perlu diketahui:*

➰ Bilal Bin Rabbah tidak dimakamkan di Saudi Arabia melainkan di Damascus.

➰ Sa'ad Bin Abi Waqas tidak dimakamkan di madinah atau mekkah melainkan di Guang Zsu (Cina).

➰ Abu Kasbah berdakwah dan dimakamkan di Tiongkok.

~~~~~~~~~~☆~~~~~~~
*🔹Footnote:*

[1] Sumber: H. Zainal Abidin Ahmad, Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang, 1979; Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.31; S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39)

[2] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.33)

[3] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.35

[4] Sumber: G. E. Gerini, Futher India and Indo-Malay archipelago

[5] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.38

[6] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39; Pangeran Gajahnata, Sejarah Islam Pertama Di Palembang, 1986; R.M. Akib, Islam Pertama di Palembang, 1929;  T. W. Arnold, The Preaching of Islam, 1968.

[7] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39.

🔘 Asy-Syaikh As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh (Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam)

🔘 Prof. Dr. HAMKA; Dari Perbendaharaan Lama; Pustaka Panjimas; cet. III; Jakarta;
READ MORE - Sejarah masuknya Islam di bumi Nusantara, sejarah vs fakta

Senin, 13 Februari 2017

Minta keadilan kepada Allah SWT

Oleh: Ust. Zulfi Akmal

Tugas kita adalah mengingatkan selalu. Mengungkap fakta yang sebenarnya. Menjelaskan pemahaman yang hak. Mengajak berfikir yang tepat. Membanding-bandingkan informasi yang bertebaran dan kenyataan yang kelihatan jelas di depan mata.

Bagi sebagian orang mungkin mudah untuk menganalisa mana yang benar dan yang salah. Mana yang asli dan mana yang palsu. Mana yang yang hakiki dan mana yang hoax. Mana yang diredhai Allah dan mana yang dimurkai-Nya. Mana yang yang akan menyelamatkan di akhirat dan mana yang akan menjerumuskan ke neraka.

Tapi bagi sebagian yang lain, ada akal yang kesulitan membedakan antara siang dan malam. Benar dan salah. Asli dan palsu. Surga dan neraka. Karena banyaknya syubahat yang bertebaran dan pemutar balikkan fakta.

Akal yang seperti inilah yang harus kita perjelas baginya kebenaran itu. Kewajiban kita menyampaikannya dengan cara yang benar lagi baik disertai usaha maksimal.

Adapun mereka percaya atau tidak itu adalah hak mutlak di tangan Allah. Allah yang memberikan petunjuk bagi orang yang ia kehendaki.

“Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup menunjuki siapa yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang akan menunjuki siapa yang Dia kehendaki”. (Al Qashash: 56)

Sebagian orang memang ada yang bertipe tidak bisa menerima kebenaran bagaimana pun bukti dan penjelasannya. Karena hati mereka seperti yang dikatakan Allah…

“Kemudian hati mereka menjadi keras setelah itu, maka ia bagaikan batu, bahkan lebih keras lagi….” (Al Baqarah: 74)

Maka jangan heran bila….

“….. mereka tidak akan beriman sampai menyaksikan langsung azab yang pedih”.(Yunus: 88)

Di saat Nabi Syu'aib yang dijuluki Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai "Khatibul Anbiya" (oratornya para nabi) kehabisan cara untuk meyakinkan kaumnya terhadap kebenaran, beliau menyerahkan segalanya kepada Allah dengan pasrah sepasrah-pasrahnya, seraya bermunajat:

وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۚ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا ۚ رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

"Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya". (Al A'raf: 89)

Mari kita perbanyak melantunkan do'a ini dengan sepenuh keyakinan dalam menghadapi tanggal 15 Februari besok. Kemudian pasrahkan hasilnya kepada Allah. Apapun takdir-Nya, semua akan baik bagi orang beriman.

Ketika usaha hamba sudah sampai kepada puncak, di sanalah Allah akan turun tangan langsung menyelesaikannya.***
READ MORE - Minta keadilan kepada Allah SWT

Minggu, 12 Februari 2017

Saat anak Adam jatuh cinta


✍  Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah حفظه الله تعالى

Seiring makin bertambahnya usia pernikahan,
kedewasaan dan juga anak, kita makin menyadari..

Bahwa ada hal-hal yang tetap sama, dan ada hal-hal yang tak terelakkan untuk berubah.
Ada hal-hal yang harus diucapkan, ada yang cukup disimpan dalam hati saja.

Kita pun jadi belajar utk mengartikan makna romantisme itu sendiri sangatlah luas.

Romantis tidak hanya soal bunga, candle light, dinner (baik di resto ternama atau yang insidentil karena mati listrik), sekotak cokelat mahal atau kartu ucapan “I Love You” yang sengaja ia tinggalkan di meja sebelum berangkat kerja.

Romantisme tidak cuma soal itu, ternyata.

For some people..

Romantis adalah ketika seorang istri berletih-letih belajar memasak di awal pernikahan mereka, demi menciptakan menu yang disukai suaminya. Meskipun ia sendiri tidak menyukainya..

Romantis adalah ketika seorang suami telaten merawat istri dan anak-anaknya yang sedang sakit.
Mengambil alih semua tugas rumah tangga yang sanggup ia kerjakan.

Romantis adalah ketika seorang suami dengan sigap mengganti popok si kecil yang terbangun tengah malam, saat sang istri terlelap karena kelelahan.

Romantis adalah saat sepasang suami istri bahu membahu merapikan rumah dan memandikan anak-anak ketika mereka sedang digegas waktu untuk pergi ke majelis ilmu disuatu pagi.

Romantis adalah saat seorang suami membangunkan istrinya untuk shalat malam dengan lembut, dan memerciki wajahnya dengan air ketika matanya masih ingin terpejam.

Romantis adalah kerelaan seorang suami untuk menahan emosi ketika mendapati istrinya tengah marah, berlapang dada untuk memaafkan dan memberi udzur ketika sang istri bersalah..

Romantis adalah ketika seorang suami berkata pada istri tercintanya, “Mencari nafkah itu tanggung jawabku, tugasmu adalah mengurus rumah dan mendidik anak-anak kita..”

Romantis adalah ketika seorang suami meminta sang istri untuk menutup aurat secara sempurna, sebagai bentuk penjagaan atas hartanya yang paling berharga.

Romantis adalah ketika seorang suami atau istri menolak permintaan pasangannya yang tidak sesuai syari’at dengan cara yang penuh hikmah.
Karena CINTA TIDAK BERARTI SELALU MENURUTI KEINGINAN ORANG YANG DICINTAINYA, terlebih jika keinginannya bertabrakan dengan rambu-rambu syar’i.
Itulah cinta karena Allah yang sejati dan abadi..

Romantis adalah ketika seorang suami menundukkan pandangannya ketika tak sengaja berpapasan dengan lawan jenisnya saat jalan dengan sang istri, dan mengeratkan genggaman tangan mereka lebih erat lagi..

Romantis adalah saat seorang suami bersedia untuk mendengarkan cerita istrinya yang panjang lebar, nggak beraturan dan nggak penting itu sampai tak sengaja ketiduran.

Romantis adalah kesabaran seorang suami ketika sang istri menyambutnya di pintu dalam keadaan kacau balau, belum sempat mandi apalagi berhias, rumah berantakan tak berbentuk dan tak ada makanan tersaji di meja. “Nggak apa, malam ini kita makan di luar yuk..”

Romantis adalah KESEDIAAN SESEORANG UNTUK MENERIMA DIRI PASANGANNYA SEUTUHNYA, lengkap dengan segala kekurangan, kelebihan dan masa lalunya, tanpa banyak mengatur dan meminta.

Romantis adalah saat memandang wajah seseorang yang kita cintai dalam lelapnyasetelah seharian penat bekerja.. Dan sejenak menyadari, telah menghabiskan tahun-tahun penuh bahagia bersamanya, seseorang yang
Allah pilihkan untuk menemani pahit manis perjalanan ini..

Romantis adalah ketika sepasang suami istri SALING MENGINGATKAN DAN MENGUATKAN DALAM  "KESABARAN"  &  "KEBENARAN". Karena mereka tidak hanya menginginkan kebersamaan di dunia saja, melainkan hingga ke Jannah-Nya..

Romantis adalah ketika engkau melihat kedalam matanya di sela-sela obrolan santai kalian, dan menemukan masih ada cinta di sana. Cinta yang sama seperti saat pertama kali bertemu dulu..

Dan yang, romantis adalah saat seorang suami memasangkan helm ke kepala istri tercintanya ketika mereka hendak bepergian dengan motor.

Ternyata banyak hal-hal romantis yang dilakukan pasangan, yang terkadang luput dari perhatian kita.
Betapa sering pasangan berbuat baik kepada kita, tapi tak pernah puas kita untuk terus menuntut lagi dan lagi.  Bahkan meminta sesuatu di luar kadar kesanggupan pasangan kita.

Astaghfirullah..
Adakah kita seperti itu terhadap istri atau suami kita selama ini?

Terlebih-lebih kita, PARA ISTRI YANG TABIATNYA ADALAH SERING MENGKUFURI KEBAIKAN SUAMI..

“Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat KEBANYAKAN PENDUDUKNYA ADALAH KAUM WANITA.
Shahabat pun bertanya, ‘Mengapa (demikian) wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam?’
Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Karena kekufuran mereka.’
Kemudian ditanya lagi, ‘Apakah mereka kufur kepada Allah?’
Beliau menjawab, ‘MEREKA KUFUR TERHADAP SUAMI MEREKA, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya.
Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’
(HR. Bukhari no. 105)

Seperti yang dituturkan dalam syair indah berikut ini..
“Kulihat kaum laki-laki memukul istri mereka, Namun tanganku lumpuh untuk memukul Zainab,
Zainab adalah matahari, sedang wanita lain adalah bintang-bintang..
Jika Zainab muncul, tak akan nampak lagi bintang-bintang..”
(Siyar A’lamin Nubala 4/106)

Banyak sisi baik dari pasangan yang membuat teduh hati ketika kita memandangnya, atau mungkin saat sekadar mengingatnya

Jujurlah pada diri sendiri..

Pasangan kita saat ini, betapa ia begitu berjasa mendampingi kita sejak bertahun-tahun lamanya.
Dialah tempat kita mencurahkan rasa. Dialah seseorang yang paling mengenal dan mengerti, siapa dan bagaimana kita sesungguhnya, dan memilih untuk tetap tinggal dan terus mencintai kita, setelah semua yang terjadi.

Cinta yang dulu mekar di awal-awal pernikahan, bisa pudar seiring berlalunya waktu. Ia bisa berubah menjadi layu sebelum akhirnya mati dan musnah.

Maka rawatlah cinta itu agar selalu berkembang dan terawat. Siramilah perasaan itu dengan hal-hal yang romantis dan penuh makna, namun sederhana…

Sederhanakanlah..

Seperti membukakan pintu mobil untuk istri tercinta bagi yang punya mobil, atau memasangkan helm ke kepalanya ketika hendak bepergian dengan motor.

Atau merapikan anak rambut yang ‘mengintip’ dari balik jilbabnya dengan tatapan penuh kasih sayang.

Ungkapan cinta yang terlihat remeh, kecil dan sepele, tapi penuh makna. Setidaknya bagi dirinya, seseorang yang kita cinta.
READ MORE - Saat anak Adam jatuh cinta